Jauh dari keriuhan ambisi dan berisik kompetisi, di sebuah desa yang tenang di bagian timur pulau Jawa, Pable dipertemukan dengan jiwa-jiwa baik yang menjadi alasan utama bagaimana visi Pable bisa mewujud. Abah Siono, Cak Lasno, dan Pak Abdullah; tangan-tangan mereka lah yang menenun Pabtex yang menjadi kesayangan kami. Sehelai kain Pabtex memiliki kisah yang dalam. Bukan hanya lahir dari sampah tekstil yang sudah melalui kehidupan banyak orang, Pabtex juga membawa kisah dari tangan-tangan para penenun.
Abah Siono, 67, sudah familiar dengan dunia tenun sejak masih sangat muda, bahkan ketika umurnya masih 13-15 tahun. Ia membagi ceritanya dengan Pable di bengkel kerjanya yang sederhana, di Desa Karangrejo, Pandaan, Jawa Timur. Terik matahari yang membakar di luar tidak menembus kami, terlindungi teduh rumah Abah sekaligus keramahannya dalam menyambut kami. Abah Siono bekerja sebagai kuli penggulung benang sejak kecil, namun akhirnya memutuskan untuk membuat usahanya sendiri pada satu dekade lalu. Dari puluhan mesin tenun yang ia miliki sekarang, Abah tentu saja memulai dari hanya beberapa mesin saja. Dahulu, ia dan para pekerjanya menenun kain lap, serbet, kain kassa, dan sejenisnya. Abah Siono yang pekerja keras bahkan menjajakan sendiri produk buatannya ke pasar-pasar tradisional di Surabaya, Malang, Mojokerto, hingga Probolinggo. Makin lama, produk-produk itu tidak laku karena tergantikan oleh produk yang lebih murah. Abah Siono perlu memutar otak untuk menyambung hidup –tidak hanya miliknya sendiri, tapi juga hidup milik para pekerjanya. Salah satunya adalah Cak Lasno.
Tiga Serangkai Abah Siono, Cak Lasno, dan Pak Abdullah memiliki cara mengartikulasikan semangat yang berbeda. Satu berdasarkan nilai kekeluargaan, yang lain berdasarkan nilai semangat hidup. Masing-masing memiliki tantangan dan kekhawatiran yang berbeda. Itulah mengapa menginkorporasikan kisah mereka ke dalam kisah Pable sebagai sebuah jenama merupakan sesuatu yang besar bagi kami. Pable tidak menyelamatkan para penenun, sebaliknya, visi dan cita-cita Pable terselamatkan oleh para penenun. Pable bukanlah pahlawan bagi para penenun serta keluarganya, sebaliknya, merekalah pahlawan kami. Pable merasa terhormat ketika pada akhirnya, kisah para penenun dan kisah kami berkelindan. Sejak awal pendirian Pable, Abah Siono, Cak Lasno, Pak Abdullah, dan lusinan penenun lain telah menenun Pabtex dengan sepenuh hati.
Sudah saatnya kamu bergabung dalam kisah panjang ini. Dengan membeli Pabtex, kamu tidak hanya ikut andil dalam mengurangi sampah tekstil, tapi juga membuat satu keluarga penenun menjadi berdaya. Rumah bernama Pable ini terdiri dari kami, penenun, dan kamu.


